Limbah Rumah Tangga Picu Kematian Ikan Warga

0 61

Kendarikota.go.id – Menindaklanjuti laporan masyarakat kelompok pembudidaya ikan Keramba Jaring Tancap (KJT) terkait kasus kematian ikan kuwe Caranx sp di kawasan perairan Kelurahan Petoaha Kecamatan Nambo Kota Kendari beberapa waktu lalu, Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Kendari bersama Tim Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kelas II Kendari melaksanakan pemantauan sekaligus sosialisasi dan pembinaan kepada pembudidaya tentang pentingnya menjaga kualitas perairan.


Tim BKIPM Kendari yang diwakili para analis ini bertugas untuk mengidentifikasi sekaligus memetakan penyebab teknis dan sumber dampak atas kematian ikan, sekaligus memberikan arahan guna menentukan langkah-langkah yang dapat diambil.


Berdasarkan hasil pengujian sampel yang diuji oleh Analis BKIPM diperoleh lokasi perairan positif mengandung bakteri Vibrio sp.


Anggota Tim Analis BKIPM, Hildayani, S.Pi menjelaskan, bahwa hasil monitoring kualitas perairan dan investigasi di lapangan diduga ada tiga penyebab kematian ikan tersebut, yakni terjadinya penurunan suplai oksigen bagi ikan, tingkat kekeruhan air yang tinggi disebabkan limbah makanan dan limbah rumah tangga dan lokasi KJT terlalu dangkal sementara substrat perairan berlumpur.


Lebih lanjut dikatakan, turunnya suplai oksigen disebabkan oleh terjadinya upwelling (umbalan) yang dipicu oleh cuaca yang cukup ekstrim dan berakibat adanya perbedaan suhu yang mencolok antara air permukaan dan suhu air dibawahnya, sehingga unsur hara yang berada di dasar perairan naik.

Baca Juga
1 daripada 82


“Cuaca ekstrim telah memicu upwelling. Jadi, pergerakan massa air secara vertical ini membawa nutrient dan partikel-partikel dari dasar perairan ke permukaan, dan ini menyebabkan pasokan oksigen untuk ikan menjadi berkurang,” ujarnya.
“Apalagi lokasi KJT cukup dekat dengan pemukiman sehingga limbah rumah tangga masuk ke perairan.”, tambahnya.


Melatarbelakangi hal itu, DKP melalui bidang teknis Usaha Budidaya rutin melaksanakan pembinaan sekaligus sosialisasi kepada pembudidaya agar menjaga kebersihan perairan serta mengurangi limbah yang masuk ke perairan, sehingga perairan bisa kembali murni seperti semula.


Kepala Dinas KP Kota Kendari Agus Salim Safrullah didampingi Kasi Produksi Budidaya, Moh. Ihsan A. Mansa, S.Pi dan Kasi Pengelolaan Unit Perbenihan Fitriah Firman Syah, S.Pi, MP, mengatakan faktor yang sangat penting dalam usaha budidaya adalah kualitas air. Olehnya itu tidak bosan-bosannya mereka menghimbau kepada pembudidaya ikan,agar selalu menjaga kebersihan lingkungan di sekitarnya sehingga kualitas perairan tetap terjaga dan terpelihara.


“Pembudidaya telah belajar dari pengalaman kemarin dan berdasarkan pantauan kami minggu lalu (3/1/2019), perairan telah kembali stabil serta usaha budidaya kembali berjalan normal bahkan ada beberapa pembudidaya KJT yang telah panen” tuturnya.

Sebelumnya, akhir tahun 2018 lalu kasus kematian ikan dialami oleh sekitar 30 RTP (rumah tangga pembudidaya) dengan jumlah ikan mati diperkirakan 10 ekor per hari untuk tiap Keramba Jaring Tancap (KJT) selama kurun waktu dua bulan. Kematian ikan menyebabkan kerugian hingga Rp. 126 juta dengan asumsi harga ikan Rp. 35.000 per kilogram.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.